BATAM – Kementerian Transmigrasi menyelenggarakan Festival Transmigrasi 2026 dan Doa untuk Negeri di SP 1 Tanjung Banon, Rempang Eco City, Kota Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat, mengembangkan potensi ekonomi lokal, serta mendorong kawasan transmigrasi tumbuh menjadi pusat kegiatan ekonomi dan sosial yang produktif dan berkelanjutan.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya melalui penyediaan permukiman dan bantuan awal. Pemerintah juga perlu mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta membuka akses terhadap peluang usaha, pendidikan, dan pekerjaan.
“Acara Festival Transmigrasi seperti ini sebenarnya juga adalah pengejawantahan bahwa kalau ada aktivitas ekonominya, masyarakat juga akan berbondong-bondong datang kemari,” ujar Iftitah dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, aktivitas ekonomi yang berkembang akan menjadi salah satu faktor penting untuk menarik masyarakat beraktivitas dan menetap di kawasan transmigrasi. Karena itu, pengembangan potensi lokal perlu berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan dan kemandirian masyarakat.
Perkuat Kemandirian Masyarakat dan Potensi Kawasan
Iftitah menekankan bahwa masyarakat harus menjadi penggerak utama dalam mengembangkan potensi wilayahnya. Dukungan pemerintah perlu diimbangi dengan kemampuan warga mengelola sumber daya, mengembangkan usaha, dan menciptakan sumber pendapatan secara mandiri.
“Intinya masyarakat harus punya pekerjaan, masyarakat harus punya pendapatan,” tuturnya.
Kementerian Transmigrasi juga mendorong penguatan kapasitas generasi muda setempat agar mampu memanfaatkan peluang kerja seiring berkembangnya industri di Batam. Dengan demikian, masyarakat transmigrasi lokal diharapkan dapat turut menikmati pertumbuhan ekonomi kawasan dan tidak tertinggal ketika investasi masuk.
Dalam mendukung upaya tersebut, Kementerian Transmigrasi mengembangkan pendekatan transmigrasi baru melalui lima program unggulan, yakni Trans Tuntas, Transmigrasi Lokal, Transmigrasi Patriot, Trans Karya Nusantara, dan Trans Gotong Royong.
Libatkan Perguruan Tinggi untuk Pengembangan Rempang
Pengembangan kawasan Tanjung Banon turut melibatkan perguruan tinggi nasional melalui program Transmigrasi Patriot serta kolaborasi akademis internasional melalui program Summer School dari Technical University of Munich (TUM), Jerman.
Berdasarkan kajian lapangan, TUM menyampaikan empat rekomendasi utama bagi pengembangan kawasan, meliputi pengelolaan lahan dengan pendekatan agroforestri, penanganan persoalan lingkungan, penguatan komunitas, serta pengembangan pariwisata bahari.
Kementerian Transmigrasi menyambut rekomendasi tersebut untuk ditindaklanjuti bersama tim lapangan, termasuk Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI).
“Kemarin luar biasa ratusan orang datang hadir dari Batam ke sini, ke kawasan transmigrasi di Eco-Rempang City, Tanjung Banon, untuk mendengar langsung pengalaman kemudian juga informasi tentang kuliah tersebut,” kata Iftitah mengenai kegiatan yang membuka akses informasi pendidikan internasional bagi generasi muda.
Kolaborasi akademis ini diharapkan memperluas akses pengetahuan, menghadirkan inovasi, dan menghasilkan rekomendasi pembangunan yang sesuai dengan karakteristik kawasan serta kebutuhan masyarakat.
Survei UI: 94 Persen Responden Berencana Tetap Tinggal
Dukungan terhadap pengembangan kawasan juga terlihat dalam hasil survei Tim Ekspedisi Patriot UI terhadap 172 kepala keluarga (KK) di Rempang Eco City pada Agustus–September 2026.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI Kawasan Transmigrasi Barelang, Vishnu Juwono, menyampaikan bahwa 94 persen responden berencana tetap tinggal di kawasan tersebut. Selain itu, 87 persen responden merasa nyaman dan aman, 83 persen menilai pembinaan yang diberikan membawa manfaat, dan 64 persen menyatakan kondisi ekonomi keluarganya lebih baik setelah menempati kawasan tersebut.
Meski demikian, survei yang dilakukan melalui wawancara langsung dari rumah ke rumah itu juga mengidentifikasi tantangan ekonomi. Sebanyak 42 persen responden tidak bekerja dan 40 persen memiliki pendapatan di bawah Rp1,5 juta.
“Sebanyak 94 persen mereka berencana tetap tinggal,” kata Vishnu.
Menurutnya, hasil tersebut perlu ditindaklanjuti dengan pendampingan yang berorientasi pada penciptaan sumber penghasilan berkelanjutan agar masyarakat semakin mandiri dan tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah.
Tim Ekspedisi Patriot UI sebelumnya melakukan kajian potensi ekonomi kawasan Barelang selama empat bulan pada 2025. Program pendampingan dilanjutkan pada 2026 dengan fokus pada sektor pertanian, perikanan, pariwisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah satu hasil pendampingan adalah fasilitasi pengurusan nomor induk berusaha (NIB) bagi 20 UMKM setempat. Program pendampingan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga akhir November 2026 dan diharapkan dapat dilanjutkan melalui kolaborasi perguruan tinggi serta lembaga pelatihan di Batam.
Sinergi Pemerintah Daerah dan Masyarakat
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, yang turut menghadiri Festival Transmigrasi 2026, menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat di Tanjung Banon.
Amsakar menilai pengembangan kawasan transmigrasi perlu didukung perencanaan matang, kajian berbasis kondisi lapangan, serta keterlibatan aktif masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan lahan, kelestarian lingkungan, kegiatan ekonomi, dan potensi pariwisata perlu dikaji secara objektif agar pembangunan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Acara ini merupakan momentum yang baik untuk menyatukan semangat dan membangun optimisme masyarakat. Mudah-mudahan kegiatan ini menyemangati warga yang ada di sini agar lebih optimal menjadikan kawasan ini sebagai wilayah yang produktif, berkembang, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dukungan tersebut memperkuat pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mengembangkan kawasan transmigrasi.
Sementara itu, Mery Lelina, warga transmigrasi lokal asal Blongkeng yang telah menempati Rempang Eco City hampir satu tahun, mengaku memperoleh pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan dan pengolahan hasil perikanan menjadi berbagai produk pangan.
Ia berharap pendampingan terus dilanjutkan agar keterampilan yang diperoleh dapat berkembang menjadi usaha yang memberikan penghasilan bagi keluarga.
“Kami berharap nanti Pak Menteri pun selalu memantau kami terus. Biarpun kami sudah agak berapa tahun di sini jangan dilepas,” ucap Mery.
Kementerian Transmigrasi berharap Festival Transmigrasi 2026 dapat memperkuat kolaborasi dan mendorong keberlanjutan program pemberdayaan di Tanjung Banon. Melalui pengembangan potensi lokal, peningkatan keterampilan, penguatan UMKM, dan penciptaan kesempatan kerja, kawasan transmigrasi diharapkan tumbuh sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial yang mampu meningkatkan kemandirian serta kesejahteraan masyarakat.









