Menu

Mode Gelap
Apakah Membantu Kejahatan Bisa Dipidana? Beli Tanah Hanya PPJB, Apa Risikonya? Cyber War: Apakah Serangan Siber Termasuk Tindakan Perang? Hegemoni vs Kedaulatan: Pelajaran dari Perang AS-Iran Apakah Perang Harus Dimulai Dengan Deklarasi Perang? Air Keras dan Bayang-Bayang Teror Aktivis

Editorial

Mengenang Jasa Gus Dur Bagi Warga Tionghoa

badge-check


					KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur Perbesar

KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur

Jendelahukum.com, Jakarta – Jasa KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur akan selalu dikenang oleh warga Tionghoa di Indonesia. Bagaimana tidak, Saat Gus Dur menjadi presiden, Hari Raya Imlek akhirnya bisa diperingati dan dirayakan dengan bebas.

Warga Tionghoa tidak perlu lagi harus sembunyi-sembunyi jika merayakannya. Kebebasan ini tidak lepas dari keputusan politik Gus Dur yang pada 17 Januari 2000, mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2000, yang isinya mencabut Inpres No 14/1967 yang dibuat Soeharto tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China.

Baca juga: Ditunding Sebagai Otak Pelengseran Gus Dur, Begini Klarifikasi Amien Rais

Karena itu, sampai saat ini Gus Dur dikenang sebagai tokoh pembela bagi berbagai kelompok yang dipinggirkan. Gusdur merupakan sosok ulama yang tidak hanya dihormati oleh kalangan umat Islam, tapi juga oleh para tokoh agama Tionghoa. Karena itu, Gus Dur pun ditasbihkan sebagai Bapak Tionghoa.

Dalam buku berjudul “41 Warisan Kebesaran Gus Dur”, M Hanif Dhakiri menjelaskan, Gus Dur tidak hanya banyak melahirkan pemikiran dan kebijakan yang menghormati masyarakat Tionghoa, tapi mantan Presiden RI ini juga mensejajarkan mereka dengan semua kelompok yang ada di bumi Nusantara dari berbagai agama, suku, dan adat istiadat yang berbeda.

Pada level praktis dan kebijakan, kata hanif pembelaan Gus dur terhadap kelompok kelompok dan etnis Tionghoa telah dibuktikan secara nyata. Menurut Hanif, perhatian dan pembelaan Gus Dur terhadap kelompok Tionghoa sangat besar.

Karena itu, beberapa tokoh agama Tionghoa Semarang kemudian mentasbihkan Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa pada 10 Maret 2004 silam di Kelenteng Tay Kak Sie. Penghargaan dan penghormatan masyarakat Tionghoa kepada Gus Dur juga selalu diitunjukkan dalam berbagai kesempatan.

Baca Lainnya

Air Keras dan Bayang-Bayang Teror Aktivis

13 Maret 2026 - 21:10 WIB

Andrie Yunus

Rangkap Jabatan dan Standar Ganda Penegakan Hukum

25 Februari 2026 - 20:01 WIB

Apa Dampaknya jika ”Parliamentary Threshold” Dinaikkan?

25 Februari 2026 - 02:47 WIB

ambang batas parlemen

Sejarah dan Asal Mula Peringatan HARI KARTINI

21 April 2022 - 06:24 WIB

Hari Kartini vector
Trending di Editorial