Thursday, June 13, 2024
Indonesia
6,813,429
Total confirmed cases
Updated on September 27, 2023 3:55 am

Sejarah dan Asal Mula Peringatan HARI KARTINI

Jendelahukum.com, Celoteh – Ibu Kartini merupakan sosok yang berharga bagi masyarakat Indonesia. Ia merupakan sosok yang memperjuangkan emansipasi perempuan di Indonesia.

Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini setiap tahunnya. Hari peringatan ini dinisbatkan dengan perjuangan Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat untuk emansipasi perempuan di Indonesia.

Baca juga: Perjuangan Hak Perempuan di Ranah Publik

Kartini sendiri merupakan perempuan yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah dan lahir pada 21 April 1879 dari keluarga bangsawan Jawa, Bupati Jepara bernama R.M. Sosroningrat dan M.A. Ngasirah.

Ayahnya merupakan Bupati Jepara, seorang priyayi dan aristokrat. Sosroningrat dikenal sebagai bupati yang intelek dan pandai berbahasa Belanda. Kemampuan bahasa Belanda itu kemudian menurun pada Kartini. Sedangkan Ibunya adalah anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara.

Semasa hidupnya, R.A. Kartini merupakan perempuan yang gemar membaca dan menulis. Ia berkeinginan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Sayang tradisi ketika itu mengharuskan anak perempuan tinggal di rumah untuk ‘dipingit’.

Di usia 12 tahun atau setelah lulus dari Europeesche Lagere School, Kartini harus mengubur mimpinya untuk mengenyam pendidikan tinggi karena harus menjalani tradisi “pingitan” selama bertahun-tahun.

Baca juga: Keterlibatan Perempuan dalam Parlemen di Tengah Budaya Patriarki

Namun perjuangannya tidak berhenti disitu, selama menjalani pingitan Kartini kerap menuliskan surat untuk temannya di Belanda bernama Rosa Abendanon. Maya Homes menulis artikel tentang wanita ini di situs tersebut. Dari korespondensi itu, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang diketahui lewat surat kabar, majalah serta buku-buku yang ia baca.

Salah satu buku bacaannya adalah buku berbahasa Belanda, seperti De Stille Kraacht karya Louis Coperus dan Die Waffen Nieder karya Berta von Suttner.

Hingga kemudian ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan di Indonesia. Dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah.

Pada 1903 saat Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

Kartini sejatinya sempat bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Hal ini dipahami oleh Suami Kartini dan mendukung cita-citanya. Kartini diizinkan membangun sebuah sekolah khusus putri di Rembang (sekarang jadi Gedung Pramuka).

Baca juga: Medusa dan Feminist Legal Theory

Sayang, belum sempat melihat buah dari perjuangannya, Kartini mengembuskan napas terakhir setelah melahirkan putranya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat, tepatnya yaitu pada 17 September 1904.

Jasad Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Untuk mengenang sosoknya sebagai pahlawan emansipasi, didirikanlah Sekolah Kartini di berbagai daerah, seperti di Semarang, Malang, Yogyakarta, Madiun, dan Cirebon. Surat-surat yang Kartini kirimkan pada para sahabat penanya di Belanda dikumpulkan dan dibuat menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pemerintah kemudian menetapkan Hari Kartini setiap 21 April. Hal itu ditetapkan pada masa pemerintahan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno lewat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

Keputusan tersebut bersamaan dengan ditetapkannya Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia. Selain itu, pemilihan 21 April sebagai Hari Kartini juga karena tanggal tersebut adalah hari kelahiran Kartini, yang jatuh pada 21 April 1879.

Editorial
Editorial
Kolom ini dikelola oleh Tim Editorial

Recent Post

Related Stories

For Subcription