Menu

Mode Gelap
Apakah Merekam Percakapan Tanpa Izin Bisa Dipidana? Hak Waris Anak dan Istri Menurut Hukum Perdata dan Hukum Islam Apa Perbedaan Penipuan dan Penggelapan dalam Hukum Pidana? Tanah Dijual ke Dua Orang, Siapa yang Dilindungi Hukum? Harta Gono-Gini Pasca Perceraian: Apakah Selalu Dibagi Dua? Berapa Hukuman Penganiayaan yang Mengakibatkan Luka Berat?

Editorial

Medusa dan Feminist Legal Theory

badge-check


					Ilustrasi Medusa Perbesar

Ilustrasi Medusa

Jendelahukum.com – Medusa; seorang pendeta cantik yang tinggal di kuil Parthenon. Dia begitu dikagumi oleh para dewa. Bahkan Poseidon, sang penguasa laut, pun terpana pada kecantikannya.

Suatu ketika, dikala Medusa sedang sendirian, secara diam-diam Poseidon menghampirinya. Akhirnya Medusa yang sedang lengah saat itu, diperkosa oleh Poseidon.

Baca: Themis Sebagai Simbol Keadilan?

Mengetahui kejadian itu Athena murka. Kuil suci miliknya dinodai. Maka penghakiman pun dilakukan dengan satu kesimpulan bahwa Medusa-lah biangnya, karena kecantikannyalah Poseidon tergoda.

Ilustrasi kecantikan Medusa

Jatuhlah satu vonis dari pengadilan berupa satu kutukan; Rambut indahnya berubah seketika menjadi sekumpulan ular yang sangat berbisa. Dan siapapun yg menatapnya akan menjadi batu.

Baca juga: Penggalan Teori; Sistem Hukum Ala M.Friedman

Sejak saat itu pula berubahlah nasib Medusa, yang dulunya dipuja-puja para dewa, menjadi monster yg menakutkan. Tebasan pedang Persieus yg meregangkan nyawanya tidak lantas menghentikan penderitaannya. Sampai kini, ia tetap dikenal sebagai sosok jahat dan menakutkan.

Ilustrasi Kematian Medusa

Demikianlah hukum menurut pandangan bangsa Yunani Kuno, sebagaimana tertuang dalam wiracarita Homer yg berjudul; “Illiad”, yang kemudian menjadi muara munculnya mitologi Yunani itu.

Lalu apa hubungannya kisah Medusa tsb dengan Feminist Legal Theory?

Dari penggalan kisah ini kita menjadi mengerti bahwa memang sejak awal hukum itu diskriminatif terhadap perempuan. Paradigma demikian terbungkus rapi membentuk suatu dogma yang banyak mempengaruhi orang-orang setelahnya.

Dalam kerancuan pikir itulah, lahir sekelompok orang yang berempati pada nasib Medusa; mencoba mendongkel dogma “keadilan” lama dengan melahirkan “Feminist Legal Theory”, agar kisah Medusa tidak terulang kembali di masa-masa yang akan datang.

Baca Lainnya

Air Keras dan Bayang-Bayang Teror Aktivis

13 Maret 2026 - 21:10 WIB

Andrie Yunus

Rangkap Jabatan dan Standar Ganda Penegakan Hukum

25 Februari 2026 - 20:01 WIB

Apa Dampaknya jika ”Parliamentary Threshold” Dinaikkan?

25 Februari 2026 - 02:47 WIB

ambang batas parlemen

Sejarah dan Asal Mula Peringatan HARI KARTINI

21 April 2022 - 06:24 WIB

Hari Kartini vector
Trending di Editorial